![]() |
| Semangka |
tersebut terasa hambar.
Sang istri pun marah2.
Imam Syaqiq menanggapi
amarah istrinya itu, beliau bertanya dengan halus :
"Kepada siapa kau marah ?
Kepada pedagang buah itu ?
Kepada pembelinyakah ?
Kepada petani yang menanamnya ?
Atau YANG MENCIPTAKAN Semangka itu ?" tanya Imam
Syaqiq.
Istri beliau terdiam.
Sembari tersenyum, imam Syaqiq melanjutkan :
"Seorang pedagang tidak menjual sesuatu kecuali yang terbaik.
Seorang pembeli pasti membeli sesuatu yang terbaik pula.
Seorang petani tentu merawat tanamannya agar bisa menghasilkan yang terbaik.
Maka sasaran kemarahanmu berikutnya yang tersisa tidak
lain kepada YANG
MENCIPTAKAN semangka itu".
Nasehat imam Syaqiq menembus sanubari hati istrinya.
Sang istri terperangah.
Terlihat butiran air mata menetes dikedua pelupuk matanya.
"Bertaqwalah, wahai istriku.
TERIMALAH apa yang sudah menjadi KETETAPAN-Nya."
Mendengar ucapan suaminya itu, sang istri merunduk menangis, mengakui kesalahannya dan ridla dengan apa yang telah Allah tetapkan."




0 Komentar untuk "Karena Semangka"